RSS

Arsip Bulanan: Mei 2014

Manusia Dan Penderitaan : Kemiskinan dan Kelaparan

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa 
sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung 
atau merasakan susuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat lahir atau 
batin atau lahir batin. Penderitaan bertingkat-tingkat ada yang berat ada yang 
ringan, namun peranan individu juga menentukan barat tidaknya intensitas 
penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum 
tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan 
merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang atau sebagai langkah awal untuk 
mencapai kenikmatan dan kebahagiaan. Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan resiko 
hidup. Tuhan membaerikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi 
juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna 
agar manusia sadar untuk tidak memalingkan dariNya. Untuk itu pada umumnya 
manusia telah diberikan tanda atau wangsit sebelumnya, hanya saja mampukah 
manusia menangkap atau tanggap terhadap peringatan yang diberikanNya. Tanda 
atau wangsit dapat berupa mimpi atau mengetahui melalui membaca koran 
tentang terjadinya penderitaan. Kepada manusia Tuhan telah membarikannya 
banyak kelebihan dibandingkan dengan mahluk ciptaannya yang lain, tetapi 
mampukah manusia mengendalikan diri untuk melupakannya. Bagi manusia yang 
tebal imannya musibah yang dialaminya akan cepat dapat menyadarkan dirinya 
untuk bertobat kepadaNya dan bersikap pasrah akan nasib yang ditentukan Tuhan 
atas dirinya. Kepasrahan karena yakin bahwa kekuasaan Tuhan memang jauh 
lebih besar dari dirinya, akan membuat manusia merasakan dirinya kecil dan 
menerima takdir.

Tak berlebihan jika kita menyebut Suwardi tewas karena kemiskinan. Pasalnya, warga miskin dari Desa Kandang Rejo, Bogor, Nganjuk, itu hanya berprofesi sebagai pemulung barang bekas. Bahkan, rumah korban terletak di dekat penampungan sampah. Lelaki tua itu hidup sebatang kara. Tiap malam, ia hanya tidur beralaskan tikar di dekat areal pembuangan sampah. Bahkan, ia tidur di areal tanah yang bukan miliknya itu, tanpa ada atap yang melindunginya dari terik dan hujan.
Seorang teman Sumardi mengatakan, sudah dua minggu lelaki tua itu menderita sesak nafas. Karena tak punya duit, Sumardi pun menahan rasa sakitnya sendiri. Pasalnya, jangankan untuk berobat, untuk makan saja susah. Ajal pun menjemputnya. Pemulung tua itu meninggal berbalut kemiskinan yang membelitnya.
Kisah Sumardi, hanya salah satu potret dari kegagalan negara mengimplementasikan amanat Undang-undang Dasar 1945. Padahal, dengan terang Undang-undang Dasar 1945 menegaskan lewat Pasal 34 ayat 1 bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Pendapat saya mengenai kasus diatas yaitu memang sudah sangat mengenaskan soal kelaparan di negara ini, banyak dari masyarakat Indonesia yang masih kelaparan disaat para pejabat menuntut fasilitas gedung yang mereka anggap “kurang”, padahal jika gedung mereka diperbaharui pun belum tentu menjamin kinerja mereka akan meningkat. Masih banyak dari saudara – saudara kita yang membutuhkan bantuan dari kita, kelaparan terjadi dimana-mana mulai dari kota bahkan di pedesaan. Memang kita tidak bisa melihat hanya dari satu sudut pandang saja, karena kemiskinan merupakan faktor utama dari kelaparan, sedangkan kemiskinan sangat dekat dengan kebodohan, tapi lagi – lagi dizaman sekarang pendidikan merupakan sesuatu yang mahal, biaya untuk sekolah pun sangat tinggi. Semuanya merupakan efek berantai dari sebagian penderitaan rakyat kecil. Sudah banyak sekali penderitaan yang dialami oleh saudara – saudara kita yang kurang beruntung, tapi banyak dari pejabat yang kurang peka terhadap penderitaan mereka, bahkan tidak peduli

 Gambar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2014 in Uncategorized